Ketika badai datang, dingin dan keporakporandaan siap menyerang. Ketika getaran datang, gempa siap menyeruak dan merobohkan bangunan, jembatan, jalan-jalan besar. Meninggalkan sisa luka anak-anak kecil yang ditinggalkan orang-orang yang mengasihinya.
Ketika senja tiba, gelap siap mencekam. Ombak siap pasang. Hewan-hewan laut mulai bersembunyi dan menggigit dari balik air laut yang mulai tak nampak apapun kecuali memantulkan cahaya. Karang-karang tepi pantai siap menusuk jari-jari kaki yang melangkah di atasnya.
Di antara berjuta hal yang menyisakan luka, Tuhan memberi orang-orang terkasih. Yang tidak selalu hadir di sisi, tapi berlari paling awal ketika kita akan tenggelam.
Melalui senyum tulus mereka, Tuhan mengajarkan kebahagiaan. Lewat tawa mereka, Tuhan menitipkan berjuta keceriaan.
Untuk setiap luka, Tuhan memberikan pengobatan. Memberikan hiburan. Memberikan cahaya. Memberikan bantuan.
Tuhan memberi pelangi setelah badai (ataupun di antara badai). Tuhan memberi lautan yang dalam sebagai kompensasi adanya gunung tinggi. Tuhan memadukan selat Sunda dan Krakatau pada sebuah senja di Anyer.
Tuhan memberi senyum untuk setiap luka.
Tuhan menitipkan senyuman pada nenek, bibi, paman, sepupu-sepupu kecil, sore yang ramai dengan orang berlalu-lalang di tepi jalan, basahnya pasir pantai saat akan senja, anak-anak kepiting yang ditangkap, kumang-kumang kecil di dalam gelas airminum mineral. Tuhan menitipkan cinta pada senja kemerahan di tepi pantai, pada detik-detik saat kami shalat maghrib berjamaah ditemani angin pantai kala senja, pada cahaya temaram lampu mercusuar yang berputar-putar, pada saat dimana kami makan malam bersama, pada saat kami menyanyikan lagu-lagu dengan keras di dalam mobil. Dan saat kembali, Tuhan memberikan cinta dalam bentuk yang lain.
Terima kasih, KAU sungguh baik
Terima kasih, bibiku sayang :-*










